Kekerasan di Lingkungan Sekolah, Mau Sampai Kapan?

Kekerasan di Lingkungan Sekolah di Indonesia tampaknya selalu menjadi masalah yang tidak pernah ada habisnya. Selesai satu perkara, muncul lagi kasus lainnya yang berbeda. Model kasusnya juga beragam, ada kekerasan antara sesama murid sekolah, ada juga antara guru dengan murid. Jika pada jaman dulu guru lebih sering diasosiakan sebagai pelaku kekerasan terhadap murid, sekarang tidak juga. Bahkan baru-baru ini ada kasus dimana guru menjadi korban arogansi murid dan juga orang tua murid.

Faktor Penyebab Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Jika kita mengurut akar penyebab dalam kasus kekerasan di lingkungan sekolah ini, sebenarnya ada tiga hal yang menjadi faktor penyebab utama dalam kasus ini. Berikut penjelasan lengkapnya:

Perubahan Jaman Dari Era Konservatif ke Era Modern

Faktor yang pertama adalah hal yang sudah pasti terjadi dan tidak bisa dilawan, yaitu perubahan jaman. Seperti yang kita ketahui, saat ini merupakan masa-masa transisi dari era konservatif ke era modern. Meskipun Orde Baru sudah berakhir sejak 20 tahun lalu, namun tampaknya warisan kultur pada masa itu masih tertanam sangat kuat.

Guru yang pada masa kepemimpinan Soeharto memiliki imunitas sebagai aparatur negara (PNS) yang membuat para wali murid tidak bisa terlalu mengintervensi. Apalagi pada masa itu pengetahuan hanya terbatas pada apa yang diajarkan oleh guru kepada murid. Jadi rasanya sangat wajar jika guru pada jaman dulu kerap bersikap otoriter dalam menanamkan pendidikan dan kedisiplinan kepada murid.

Hal ini tentu sangat tidak sejalan dengan gaya belajar pada jaman modern seperti sekarang ini. Terlebih dengan minimnya apresiasi terhadap guru dari pemerintah. Tentu semakin menjadikan sosok guru menjadi tidak se-sakral jaman dulu dihadapan masyarakat.

Lingkungan Tempat Tinggal dan Pergaulan

Sekilas memang terlihat sepele dan agak klise faktor penyebab yang satu ini. Namun kenyataannya memang lingkungan tempat tinggal dan pergaulan sangat mempengaruhi perilaku. Bukan hanya terhadap anak-anak dan remaja sebagai murid sekolah, bahkan pada guru sekalipun. Kultur yang biasa dirasakan dan dijalani di tempat tinggal dan pergaulan secara tidak sadar akan terbawa ke lingkungan sekolah dalam kegiatan belajar mengajar.

Tanpa bermaksud untuk menggeneralisir, tentu kita akan bisa melihat perbedaan dari orang yang tinggal di lingkungan kumuh dengan lingkungan yang sehat. Lingkungan yang tidak sehat akan cenderung membawa pergaulan yang tidak sehat pula. Sebut saja seperti budaya kekerasan, minimnya sopan santun bahkan tidak jarang menjurus ke hal kriminal seperti narkoba dan premanisme.

Pendidikan Sejak Dini Yang Ditanamkan Orang Tua Murid

Faktor ketiga yang menjadi penyebab dalam kasus kekerasan di lingkungan sekolah ini adalah pendidikan yang diberikan orangtua kepada anak sejak usia dini. Karena jika kita tidak bisa menahan perubahan jaman dan sulit untuk memiliki tempat tinggal dalam lingkungan yang sehat, maka faktor ini sangat menentukan. Orangtua jaman sekarang tentu memiliki kecenderungan gaya mendidik yang berbeda dibandingkan dengan orangtua jaman dulu.

Jika pada jaman dulu seorang ibu cenderung lebih banyak berada di rumah untuk mendidik anak, saat ini cukup banyak ibu yang berprofesi sebagai wanita karir. Tanpa mendiskreditkan sosok wanita karir yang memang berniat untuk membantu keuangan keluarga, ini juga memberikan dampak yang lumayan. Tentu bukan berarti semua ibu yang menjadi wanita karir seperti itu.

Cukup banyak juga keluarga yang kedua orangtua nya bekerja, namun tetap dapat menerapkan pendidikan pada anak. Sehingga anak mereka dapat berlaku dan bertindak sesuai dengan aturan dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Usaha Untuk Menekan Kejadian Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Masalah kekerasan di lingkungan sekolah tentu menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya pemerintah dan instansi pendidikan saja, keluarga dan lingkungan juga wajib menjalankan peran penting mereka. Dan untuk penjelasan konkritnya tentang langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk menekan angka kejadian semacam ini, akan kita bahas di artikel selanjutnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *